“haha!! Dasar kau anak pemulung. Miskin! HAHAHA!!” begitulah
perkataan yang selalu aku dengar disetiap aku kesekolah.
***
“ibu aku berjanji suatu saat aku akan bisa membahagiakanmu bu.
Aku janji aku akan bisa menggantikan posisi ayah untukmu bu.” Gumamku dalam
hati disaat aku melihat sosok wanita paruhbaya tertidur pulas diatas ranjang
mini.
Hari ini sekolahku libur, aku ingin membantu ibu mencari botol
bekas yang bisa dijual kembali untuk sesuap nasi hari ini. “kamu mau kemana
nak? Jangan nekat. Kamu masih terlalu kecil untuk melakukan ini.” Tiba-tiba aku
mendengar suara lembut itu disaat aku ingin mengambil keranjang tempat botol
bekas tersebut.
“oh ibu. Tidak bu Rena hanya ingin membantu ibu, Rena ingin bisa membahagiakan ibu,bu.”
“oh ibu. Tidak bu Rena hanya ingin membantu ibu, Rena ingin bisa membahagiakan ibu,bu.”
Ya inilah aku Rena Pratiwi, aku dilahirkan dikeluarga yang
kaya raya. Aku anak tunggal dikeluarga ini, sekolahku baru saja kelas 1 SMP.
Dulu hidup kami sangat nyaman, disaat ayah memegang jabatan direktur
diperusahaan warisan kakek. Perusahaan ayah sangat maju, bahkan sampai ke MancaNegara.
Banyak perusahaan lain ingin bergabung untuk bekerja sama diperusahaan ayah.
Ayah dikenal sebagai sosok yang dermawan, dia selalu membantu setiap orang yang
kesusahan. Bahkan ayah sangat sabar, dia sering tertipu hingga harus
jatuh-bangun mengelola perusahaan kakek.
Tapi seketika hidup kami berubah. Ayah sudah mulai renta,
usianya yang tidak muda lagi harus merasakan sakit. Ayah mengalami sakit yang
sangat parah, sampai ibu harus menjual satu per satu asset milik ayah untuk
pengobatan ayah. Di Indonesia tidak ada dokter yang mampu mengobati penyakit
ayah yang bercampur sangat banyak. Hingga ayah dirujuk oleh dokter agar berobat
ke Australia. Setelah beberapa minggu menjalani pengobatan disana ayah pun
sembuh. Aku dan Ibu sangat bahagia, akhirnya kami pun pulang ke Indonesia. Tapi
setelah beberapa minggu bisa bernafas lega karna ayah sudah sembuh. Tiba-tiba
jantung ayah kumat, dan harus segera dibawa kerumah sakit. Ayah pun terkena
strok berat lagi. Tapi ayah tidak ingin dibawa berobat keluar negri, dia hanya
ingin berobat disini. Satu persatu asset milik ayah habis terjual, bahkan ibu
harus mencari pinjaman uang untuk pengobatan ayah.
Tapi nihil, yang maha kuasa berkehendak lain. Ayah pun
dipanggil sang pencipta untuk kembali padanya. Aku dan Ibu merasa sangat
terpukul, ibu yang sampai sakit-sakitan karna masih belum percaya ayah akan
pergi secepat ini. Akhirnya ibu pun sembuh, tapi kami harus membayar ratusan
juta uang pinjaman diBank. Hingga suatu ketika pegawai Bank pun datang dan
menyita rumah kami. saat itu kehidupan aku dan ibu berubah. Aku bahkan terpaksa
pindah sekolah di Smp yang tidak favorit. Aku mengerti kehidupan ini, sangat
berat, sangat sulit.
***
“Rena, ayo nak dimakan dulu, hanya ini yang bisa ibu beli
untuk kamu nak. Ayo dimakan.” Kata ibu sambil memberikan sebungkus nasi padaku.
“ibu sudah makan?” tanyaku kembali pada ibu.
“oh sudah nak ibu tadi sudah makan, sudah ayo dimakan nak. Nanti nasinya dingin gak enak.”
“bu, ayo kita makan bersama, Rena tau ibu pasti sangat lapar bukan? Ohiya bu ini tadi hasil penjualan botol yang Rena cari. Mungkin cukup buat makan kita besok bu.” Kataku sambil memberika beberapa lembar rupiah.
“simpan saja untukmu nak, lebih baik kamu tabung untuk sekolahmu kelak. Ibu tidak membutuhkan uang itu, kamu lebih membutuhkannya nak.” Kata ibu dengan teramat sangat lembut.
“baiklah bu, aku akan menyimpannya. Aku berjanji bu, aku akan menjadi seperti ayah. Aku akan bisa sukses seperti ayah. Aku juga akan membawa ibu kekehidupan yang layak bu.”
“ibu sudah makan?” tanyaku kembali pada ibu.
“oh sudah nak ibu tadi sudah makan, sudah ayo dimakan nak. Nanti nasinya dingin gak enak.”
“bu, ayo kita makan bersama, Rena tau ibu pasti sangat lapar bukan? Ohiya bu ini tadi hasil penjualan botol yang Rena cari. Mungkin cukup buat makan kita besok bu.” Kataku sambil memberika beberapa lembar rupiah.
“simpan saja untukmu nak, lebih baik kamu tabung untuk sekolahmu kelak. Ibu tidak membutuhkan uang itu, kamu lebih membutuhkannya nak.” Kata ibu dengan teramat sangat lembut.
“baiklah bu, aku akan menyimpannya. Aku berjanji bu, aku akan menjadi seperti ayah. Aku akan bisa sukses seperti ayah. Aku juga akan membawa ibu kekehidupan yang layak bu.”
Tanpa tersadar aku melihat ibu menitikkan air mata. “ibu
kenapa ibu menangis? Apa ada yang menyinggung perasaan ibu disetiap perkataan
Rena bu?”
“tidak nak, ini air mata bahagia, ibu bahagia karna bisa punya anak seperti kamu, ayahmu pasti sangat bangga melihatmu nak. Kamu sosok anak yang tegar, kamu kuat nak, kamu tidak pernah malu dengan kehidupan kamu sekarang.” Kata ibu sambil tersenyum dan memelukku.
“tidak nak, ini air mata bahagia, ibu bahagia karna bisa punya anak seperti kamu, ayahmu pasti sangat bangga melihatmu nak. Kamu sosok anak yang tegar, kamu kuat nak, kamu tidak pernah malu dengan kehidupan kamu sekarang.” Kata ibu sambil tersenyum dan memelukku.
4tahun kemudian…
Aku melihat pengumuman kelulusan sekolah menengah atasku. Rasa
degdegan pun menyelimuti jantungku, apakah nilaiku akan sebagus waktu aku SMP
dulu? Kulihat nomor demi nomor yang tertempel didinding, kulihat dari urutan
terbawah, karna aku yakin pasti nomorku tidak berada diurutan teratas. “Ya Allah
kenapa nomor ujianku tidak kunjung ada? Apa aku harus meruntuhkan semangat
ibu?” gumamku cemas dalam hati. Tidak lama kucari, aku pun memblalakkan mataku
dan kulihat nomor ujianku berada diurutan nomor 2. Betapa bahagiannya aku
sampai aku meneteskan airmata bahagia. Aku pun bergegas pulang dan memberi tahu
kabar bahagia ini untuk ibu.
“ibuuuu!!!!!!!” teriakku dari kejauhan.
“ada apa nak? Kenapa teriak seperti itu. Kamu kenapa menangis?”
“bu.. aku lulus, dan nomorku berada di atas bu, nilai ujianku tertinggi nomor 2 bu.” Kataku sembari menangis sambil memeluk ibu.
“nak, kamu harus bersyukur. Tapi maaf nak ibu belum punya biaya untuk memasukkan kamu di salah satu universitas nak.” Ibu pun menangis kecewa.
“tidak apa apa bu, aku masih ada tabungan, tabungan yang ibu ajarkan padaku dulu. Aku bisa memakai uang itu bu.”
“ada apa nak? Kenapa teriak seperti itu. Kamu kenapa menangis?”
“bu.. aku lulus, dan nomorku berada di atas bu, nilai ujianku tertinggi nomor 2 bu.” Kataku sembari menangis sambil memeluk ibu.
“nak, kamu harus bersyukur. Tapi maaf nak ibu belum punya biaya untuk memasukkan kamu di salah satu universitas nak.” Ibu pun menangis kecewa.
“tidak apa apa bu, aku masih ada tabungan, tabungan yang ibu ajarkan padaku dulu. Aku bisa memakai uang itu bu.”
***
Hari ini pembagian ijazahku. Tidak lama kemudian namaku
dipanggil, dan ibu datang memenuhi panggilan itu.
“benar anda orang tua Rena Pratiwi?” Tanya seorang guru yang berstatus wakil kepala sekolah.
“iya pak saya ibunya, gimana nilai ijazah anak saya pak?”
“begini bu, nilai dia sungguh memuaskan, dan kami para pihak sekolah mendaftarkan nama Rena Pratiwi disalah satu universitas di Belanda bu.” Terang wakil kepala sekola sambil tersenyum.
“pak, maaf kami bukan orang kaya pak. Jadi bagaimana caranya saya bisa membayar uang kuliah anak saya pak? Apalagi di Belanda. Kami tidak mampu pak.” Kata ibu dengan kecewa.
“bu, tenanglah Rena diberikan beasiswa di sana bu, berhubung nilai Biologi dan bahasa inggrisnya dia tertinggi jadi dia diberikan beasiswa untuk kuliah kedokteran di salah satu universitas diBelanda selama 3 tahun bu.”
“pak. Bapak benar? Apa bapak tidak salah?” Tanya ibu sedikit tidak percaya.
“tidak bu, inilah hasil kerja keras Rena selama 3 tahun di SMA ini.”
“benar anda orang tua Rena Pratiwi?” Tanya seorang guru yang berstatus wakil kepala sekolah.
“iya pak saya ibunya, gimana nilai ijazah anak saya pak?”
“begini bu, nilai dia sungguh memuaskan, dan kami para pihak sekolah mendaftarkan nama Rena Pratiwi disalah satu universitas di Belanda bu.” Terang wakil kepala sekola sambil tersenyum.
“pak, maaf kami bukan orang kaya pak. Jadi bagaimana caranya saya bisa membayar uang kuliah anak saya pak? Apalagi di Belanda. Kami tidak mampu pak.” Kata ibu dengan kecewa.
“bu, tenanglah Rena diberikan beasiswa di sana bu, berhubung nilai Biologi dan bahasa inggrisnya dia tertinggi jadi dia diberikan beasiswa untuk kuliah kedokteran di salah satu universitas diBelanda selama 3 tahun bu.”
“pak. Bapak benar? Apa bapak tidak salah?” Tanya ibu sedikit tidak percaya.
“tidak bu, inilah hasil kerja keras Rena selama 3 tahun di SMA ini.”
Selesai perbincangan pun ibu keluar dari ruang wakil kepala
sekolah, dan langsung memelukku.
“selamat nak. Kamu sudah berhasil sekarang.” Sambil memelukku
dan menitikkan air mata bahagia.
“ibu, ada apa?”
“ini nak baca, surat ini.” Sambil memberikan amplop putih untukku.
“ibu, ada apa?”
“ini nak baca, surat ini.” Sambil memberikan amplop putih untukku.
Aku membuka dan membacanya.
“ibu, apa ini nyata? Aku akan kuliah di Belanda bu? Aku janji
tidak akan menyianyiakan kesempatan ini bu. Berarti lusa aku sudah harus
berangkat ke Belanda bu. Tapi.. bagaimana dengan ibu?” tanyaku cemas memikirkan
nasib ibu disini.
“tenanglah nak, ibu akan baik-baik disini ini kesempatan bagus untukmu, ibu akan mendoakanmu.” Perkataan ibu seketika memberiku semangat yang sangat besar untuk bisa membahagiakan ibu.
“tapi ingat nak, disaat kamu sukses nanti jangan pernah menjadi orang yang sombong, selalu ingat dengan Allah SWT nak.” Terang ibu sambil menatapku.
“tenanglah nak, ibu akan baik-baik disini ini kesempatan bagus untukmu, ibu akan mendoakanmu.” Perkataan ibu seketika memberiku semangat yang sangat besar untuk bisa membahagiakan ibu.
“tapi ingat nak, disaat kamu sukses nanti jangan pernah menjadi orang yang sombong, selalu ingat dengan Allah SWT nak.” Terang ibu sambil menatapku.
***
Hari ini aku mulai kuliah di Belanda, tidak lupa aku pun
selalu menghubungi ibu untuk mengetahui bagaimana keadaannya. Disini aku menemukan
orang yang sangat ramah, negri kincir angin ini memberiku kesempatan untuk
menggapai mimpiku membahagiakan ibu.
3tahun
kemudian…
Besok pemberian title Dr. padaku aku sangat gugup, aku tidak
sabar ingin kembali ke Indonesia melihat ibu disana, aku sungguh kangen pada
ibu. Aku menelfon ibu dan kembali kutanyakan kabarnya bagaimana. Ibu mengatakan
dia sehat, tapi entah kenapa batinku tak yakin karna suara ibu sangat lemah.
Tapi aku tetap percaya perkataan ibu, ibu tahu hari ini aku wisuda dan pemberian
title Dr. tapi ibu tidak tahu kalau aku besok akan pulang ke Indonesia, aku
ingin memberikan surprice pada ibu.
Hari yang ditunggu pun tiba hari dimana aku kembali ke
Indonesia.
***
Sampai di bandara, aku pun bergegas pulang kerumah karna
oleh-oleh sudah berada ditangan.
“kenapa
ramai sekali orang dirumahku? Ada apa ini?” gumamku bingung dalam
hati.
Tanpa fikir panjang aku pun langsung masuk kedalam. Dan takku
sangka, yang kulihat disini ibuku, ibu sedang tertidur bertutup kain putih
bersih. Seketika napasku sesak, aku tak ingin bernafas rasanya, aku tak ingin kembali rasanya kalau aku hanya bisa
melihat jasad ibu didepanku. Seketika aku terdiam dan aku berdiri tanpa berkata
apapun. Tanpa sadar buliran bening jatuh dari kelopak mataku, aku terjatuh aku
terduduk lemas tanpa bisa berkata apapun. Aku menangis, aku berteriak, aku
histeris disitu. Aku menangis meraung, tak ada yang mampu merasakan bagaimana
rasanya. Hanya ibu hartaku satu-satunya.
“IBUUUUUUUU!!!!! KENAPA IBU PERGI BU? KENAPAAA!!!!!!!” aku terisak sesak rasanya.
“IBUUUUUUUU!!!!! KENAPA IBU PERGI BU? KENAPAAA!!!!!!!” aku terisak sesak rasanya.
“IBUUUU!!!!! 3 TAHUN AKU PERGI BU, SEKARANG AKU KEMBALI KENAPA
IBU YANG PERGI BU???? IBU BANGUNN!!” sambil memeluk jasad ibuku yang sudah
dingin membeku dan tak tahan air mata pun tumpah semakin deras.
“Rena.. sudah, biarkan ibumu pergi dengan tenang, ini ibumu
menitipkan surat untukmu.” Salah seorang tetanggaku menenangkan sambil
memberiku secarik surat.
Aku membuka surat itu, tapi tetap saja aku masih terisak.
Untuk anakku Rena Pratiwi…
nak.. maafkan ibu, kalau ibu belum bisa menjadi yang terbaik untukmu..
maafkan ibu nak..
sekarang ibu tidak mampu lagi untuk menemanimu nak..
waktu ibu sudah habis, ibu harus pergi..
kamu jangan sedih, ibu akan melihatmu dari sini nak..
sekarang kamu sudah menjadi Dr.Rena Pratiwi..
untuk itu ibu minta kamu tetap menjadi orang yang dermawan ya..
seperti ayahmu dulu, kamu harus saling membantu..
banyak orang diluar sana yang butuh bantuan kamu..
sekali lagi selamat ya nak.. ibu sangat bangga punya anak seperti kamu..
nak.. maafkan ibu, kalau ibu belum bisa menjadi yang terbaik untukmu..
maafkan ibu nak..
sekarang ibu tidak mampu lagi untuk menemanimu nak..
waktu ibu sudah habis, ibu harus pergi..
kamu jangan sedih, ibu akan melihatmu dari sini nak..
sekarang kamu sudah menjadi Dr.Rena Pratiwi..
untuk itu ibu minta kamu tetap menjadi orang yang dermawan ya..
seperti ayahmu dulu, kamu harus saling membantu..
banyak orang diluar sana yang butuh bantuan kamu..
sekali lagi selamat ya nak.. ibu sangat bangga punya anak seperti kamu..
Salam sayang. Ibumu..
Nangisku sekarang sudah bisa dikontrol, tapi tetap saja sesak
didadaku belum bisa menerima kenytaannya. “ibu..
terimakasih atas semua nasehatmu bu.. Rena akan menjalankan amanah ibu, Rena
akan membantu orang tanpa memikirkan bayarannya bu, Rena akan menjadi seperti
ayah yang saling membantu orang lain, dan Rena juga akan menjadi seperti ibu
yang selalu sabar menjalani hidup bu. Terimakasih bu, Rena sayang sama ibu.”
Kataku dihadapan makam yang tertulis nama ibuku itu. Dengan senyuman dan
titikan air mata bahagia aku pun meninggalkan makam ibu.
“TERIMAKASIH AYAH-IBU KALIAN ORANG TUA YANG HEBAT. RENA BAKAL
JADI SEHEBAT KALIAN AYAH-IBU, RENA AKAN MENJALANKAN SEMUA AMANAH YANG KALIAN
TITIPKAN PADA RENA”
TERIMAKASIHHHHHH AYAHHH TERIMAKASIHHHH IBUUUU..
Anggi Maulida Sari
izin share ya ngik :)
BalasHapussilahkan bakpit:)
Hapus